Tertekan Virus Corona dan Kekeringan, Derita Petani Italia

Tolakamsiong – Zona pertanian di Italia menemukan pukulan ganda. Tekanan tersebut tiba dari pandemi virus corona serta kekeringan parah.

Tekanan tersebut berpotensi mengecam ketersediaan pangan. 6 minggu lockdown membuat para petani Italia tidak dapat berbuat apa- apa.

Upaya memutus mata rantai penyebaran virus corona pula berarti menutup mata pencaharian mereka. Blokade di perbatasan, penutupan restoran serta ketiadaan pekerja musiman jadi hambatan yang dialami bisnis zona buah serta sayur- mayur di negeri yang terletak di Eropa Selatan itu.

Salah satunya, pertanian di wilayah Fasano, dekat tepi laut Puglia di Italia selatan kepunyaan keluarga Fanizza. Virus sudah membuat mereka kekurangan tenaga.

Maklum, para pekerja takut keluar rumah tercantum bekerja sebab khawatir terinfeksi virus.” Buat menabur dengan benar, kami memerlukan 7 ataupun 8 orang. Kami berharap bisa menciptakannya. Bila tidak kami wajib kurangi penciptaan,” kata Floriana Fanizza dilansir dari AFP, Senin( 20/ 4).

Baca Juga : DPR Kritik Dana BOS Pemotongan untuk Penanganan Covid-19

Umumnya terdapat dekat 350 ribu orang asing yang dipekerjakan secara musiman di zona pertanian Italia. Bagi informasi Departemen Pertanian, virus corona membuat Italia kekurangan 250 ribu hingga 270 ribu tenaga kerja.

Aksi Mendesak

” Suatu wajib lekas dicoba, sebab panen stroberi, asparagus, artichoke, serta buah- buahan di rumah kaca( semacam melon, tomat, serta paprika) telah berlangsung,” bagi Coldiretti, serikat pekerja pertanian terbanyak di Italia.

Zona pertanian Italia merupakan yang terbanyak ketiga di Eropa. Zona tersebut menciptakan nilai 56, 6 miliyar euro ataupun dekat Rp934 triliun untuk ekonomi negeri tersebut pada 2019 kemudian.

Hasil tersebut terbanyak ketiga sehabis Prancis( 75, 4 miliyar euro ataupun dekat Rp1, 26 kuadriliun), serta Jerman( 57 miliyar euro ataupun dekat Rp958 triliun).

Buat menanggulangi permasalahan tersebut, Italia serta Rumania lagi berdiskusi. Dialog dicoba buat memudahkan pergerakan warga kedua negeri. Dekat sepertiga tenaga musiman yang bekerja di Italia memanglah berasal dari Rumania. Menteri Pertanian Teresa Bellanova pula menyerukan ketentuan menimpa perpindahan massa tanpa dokumen demi menggerakkan ekonomi.

Dikala ini banyak orang- orang yang tinggal di kota kumuh serta dieksploitasi mafia serta sistem tenaga kerja ilegal ataupun yang diketahui bagaikan caporalato, di mana perantara yang bawa pekerja ke petani mengambil kebanyakan upah yang tidak seberapa.

Proposal menimpa tenaga kerja tersebut disetujui Coldiretti. Tetapi sayangnya, proposal tersebut tidak menemukan restu dari kalangan sayap kanan.

Sangat Kering dalam 60 Tahun

Tidak hanya virus, kekeringan pula jadi permasalahan untuk petani Italia. Apalagi dapat dibilang ini merupakan masa semi terkering dalam 60 tahun terakhir.

Danau Como, yang terbanyak ketiga di Italia, nampak dangkal. Bagi ahli cuaca, curah hujan dini tahun ini cuma setengah dari umumnya.

” Telah lama tidak turun hujan serta tanahnya gersang, paling utama buat gandum. Situasinya kritis, kami butuh mengairi ladang,” ucap Fanizza.

Pemerintah sudah mempersiapkan dana 100 juta euro buat menunjang bisnis pertanian. Tidak hanya itu terdapat pula dana 50 juta euro buat membeli santapan serta mendistribusikannya ke daerah Italia yang termiskin.

Pendekatan tersebut diyakini dapat menolong orang kelaparan, memangkas limbah, serta menghindari kemerosotan harga.