RIP Kobe Bryant

Tolakamsiong – RIP Kobe Bryant. Suara pengamat menemani assist yang diberi Kobe Bryant pada Shaquille O’Neal. Laga di antara LA Lakers menantang Portland Trail Blazers di final daerah barat NBA musim 2000 itu tinggal tersisa beberapa menit saat O’Neal menyelesaikan umpan prima dari Bryant. Lakers menang.

Saya melihat peristiwa ikonis itu melalui satu video. Persisnya pada pertengahan 2004, empat tahun berlalu sesudah laga berjalan.

Melihat video itu ialah peristiwa saat saya pada akhirnya mengidolakan seorang Kobe Bryant. Waktu itu Lakers barusan ditaklukkan Detroit Pistons di Final NBA. Mereka tidak berhasil mendapatkan juara 4x berturut-turut.

Tetapi kekalahan Kobe serta Shaq itu malah membuat saya jadi terpikat pada Lakers, khususnya Black Mamba. Seorang anak muda yang masuk NBA langsung dari SMA dan dapat jadi salah satunya pemain paling baik yang pernah ada.

Satu hal yang paling saya gemari dari Kobe ialah kegigihannya cetak angka. Terlepas dari apa saja kesusahan yang dia mengmelawan, dari mulai double tim, triple tim, atau waktu yang hampir habis.

Walau ciri-khasnya itu membuat terkadang dinilai sebab dipandang serakah, tetapi Kobe tetap memberikan bukti dengan beberapa poin yang dia hasilkan.

Permainan ngotot ala Kobe itu pada akhirnya dipanggil Mamba Mentality, arti yang melekat di kepala saya tiap dengar kata Kobe Bryant.

Saya masih ingat bagaimana Kobe cetak 81 point waktu hadapi Toronto Raptors. Pikirkan, 81 point pada sebuah laga!

Catatan Kobe itu ialah yang ke-2 paling banyak dalam riwayat NBA sesudah Wilt Chamberlain yang cetak 100 point.

Serta seorang Michael Jordan yang disebut jadi paling baik selama hidup atau GOAT juga tidak pernah cetak point ‘segila’ Kobe.

Saya ingat bagaimana Kobe pecahkan rekor point paling banyak di Madison Square Garden pada 2009.

Waktu itu ia cetak 61 point, walau pada akhirnya rekor itu dilalui oleh Carmelo Anthony beberapa waktu setelah itu.

Pikiran saya merekam raut muka Kobe saat Lakers dipecundangi lawan abadinya, Boston Celtics, di Final NBA 2008.

Baca Juga : Marion Jola Bikin Netizen Heboh Lagi

Tetapi senyuman Kobe kembali merekah semusim sesudahnya, yakni 2009 serta 2010. Lakers mendapatkan dua gelar berturut-turut sesudah menaklukkan Orlando Magis dalam empat game, serta membalas dendam ke Boston Celtics satu musim berlalu.

Saat-saat kejayaan Lakers serta Kobe ini tidak pernah saya terlewat. Entahlah itu harus streaming lewat computer, pinjam wifi universitas, serta terlambat masuk kuliah saya kerjakan untuk melihat final NBA. Untuk lihat Kobe Bryant.

Saat keadaan fisiknya alami penurunan karena luka achilles juga saya tidak pernah jemu menanti penampilannya.

Saya suka bukan main waktu Kobe pada akhirnya melalui catatan Jordan di daftar pembuat point paling banyak di NBA.

Tentunya saya susah bukan kepalang waktu Kobe putuskan pensiun pada 2016.

Pada momen-momen terakhir kalinya bertanding juga Kobe masih memberi saya serta fans yang lain hadiah: 60 point!

Laga menantang Utah Jazz di Stapless Center itu jadi rekor point paling banyak yang diciptakan oleh pemain di laga paling akhir sebelum pensiun di NBA.

Kembali lagi, Kobe pecahkan rekor.

Serta sesudah pensiun juga Kobe masih pecahkan catatan lain.

Ia jadi pemain pertama dalam riwayat NBA yang dua nomor punggungnya dipensiunkan di satu team yang sama.

Ya, Lakers memang memensiunkan nomor 8 serta 24, dua nomor yang dipakai Kobe sepanjang 20 tahun berbaju ungu-emas.

Dua dekade bela Lakers pasti bukan waktu yang sesaat. Serta pada saat-saat itu Kobe memiliki beberapa peristiwa yang sebetulnya dapat ia pakai untuk keluar. Misalnya waktu Lakers puasa kemenangan dari 2002 sampai 2009.

Tetapi ia tidak pergi. Ia masih setia dengan satu team sampai pensiun.

Satu kata yang saya ingat masalah kesetiaan Kobe ialah beberapa kata yang keluar dari mulut Jeanie Buss, pemilik sekaligus juga Presiden LA Lakers:

“Kobe, I thank you for staying setia to the purple and gold, and remaining a Laker for life when it might have been easier for you to leave.”

(Kobe, saya mengucapkan terima kasih sebab kamu masih tiap pada ungu serta emas serta masih jadi seorang Laker seumur hidup saat sebetulnya lebih gampang untuk pergi)

Tetapi pada Senin pagi hari ini pada akhirnya Kobe betul-betul pergi. Tidak dari Lakers, tetapi tinggalkan kebanyakan orang, terhitung saya sebagai fansnya semenjak 2004.

Ia pergi dengan tinggalkan banyak perolehan yang memberikan inspirasi kebanyakan orang.

Mamba Mentality tidak cuma berlaku di dunia basket, tetapi di semua faktor kehidupan.

Terima Kasih, Kobe.

Be the first to comment

Leave a Reply