Limbah Minyak Di Pantai Bintan lagoi

Tolakamsiong – Limbah Minyak Di Pantai Bintan lagoi . Sampah minyak hitam yang mencemari lokasi pesisir Pantai Trikora sampai ke Desa Pengudang, Bintan, Kepulauan Riau membuat beberapa pelancong luar negeri urung beraktivitas snorkeling di perairan itu.

Salah satunya tempat snorkeling yang terpengaruh sebaran minyak hitam adalah Bintan Nemo, satu wisata bahari dengan ide wisata kelong alias rumah panggung ditengah-tengah laut. Tepatnya berada di Pantai Trikora Dua.

“Tadi malam ada seputar empat wisatawan Prancis yang ingin snorkeling di sini. Tetapi sesudah lihat ada minyak hitam, pada akhirnya gagal, mereka benar-benar sedih,” kata Karno, Owner Bintan Nemo, seperti yang diambil dari Di antara pada Rabu (19/2).

Karno mengemukakan untuk beberapa waktu ke depan, faksinya sangat terpaksa menampik tamu, baik luar dan dalam negeri yang ingin snorkeling di daerah itu, sampai keadaan laut ditempat terlepas dari cemaran minyak hitam.

“Seputar tiga hari kita stop bekerja dahulu, sia-sia jika dipaksakan terima tamu, tentu ujung-ujungnya tidak jadi, sebab unsur minyak hitam itu barusan,” katanya.

Baca Juga : Tewaskan Seorang Pelajar SMK, Tawuran di Cikarang

Ia tidak menolak, keadaan ini pasti memunculkan kerugian buat faksinya sebagai penyuplai layanan wisata snorkeling.

Karno menyebutkan, dalam keadaan normal, satu hari minimum ada lima tamu yang snorkeling di tempatnya.

“Jika untuk tamu dalam negeri, harga snorkeling Rp200 ribu per orang. Sedang tamu luar negeri Rp300 ribu per orang,” katanya.

Karno mengutarakan, cairan minyak hitam itu mulai mengotori laut seputar, terutamanya Pantai Trikora Dua, semenjak Selasa (18/2).

Sesaat Desa Pengudang, telah terlebih dulu terpengaruh minyak hitam, seputar tanggal 16 Februari 2020 tempo hari.

“Paling kronis itu di Desa Pengudang, selama bibir pantainya telah dipenuhi minyak hitam,” katanya.

Dengan pribadi, Karno akui susah bikin menghadapi serangan minyak hitam itu, sebab hal sama berlangsung tiap tahunnya, khususnya waktu musim angin utara.

Ditambah lagi untuk menampungnya ke wadah drum, lanjut ia, bukan suatu hal pekerjaan yang gampang.

“Ini minyaknya bukan satu atau dua ton, makin banyak dari itu. Pikirkan berapakah drum yang dibutuhkan bikin memuat. Karenanya saya biarlah demikian saja, kelak hilang sendiri,” papar Karno.

Be the first to comment

Leave a Reply