Jika Wisatawan Tak Patuh Protokol, Pemkot Akan Tutup Malioboro

Tolakamsiong – Pemerintah Kota( Pemkot) Yogyakarta mengaku hendak menutup kawasan wisata Jalur Malioboro bila masih terdapat wisatawan yang tidak patuh protokol kesehatan penangkalan Covid- 19.

Jogoboro ataupun regu spesial yang menanggulangi kedisiplinan serta keamanan di kawasan ini juga dikerahkan.

” Malioboro hendak kami tutup bila nyatanya masih kedapatan terdapat orang yang tidak mengenakan masker serta tidak melindungi jarak raga maupun protokol baru covid- 19,” kata Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi, dalam keterangannya, Selasa( 9/ 6).

Bersumber pada hasil inspeksi tiba- tiba( sidak), grupnya menyebut masih terdapat wisatawan yang tidak menaati protokol kesehatan di Malioboro. Heroe pula sudah memohon kepada Kepala Dinas Pariwisata serta Kepala UPT Malioboro buat berpatroli.

” Kenapa wajib tegas? Sebab Malioboro telah mulai menggeliat. Banyak orang dagang serta wisatawan yang berdatangan,” ucap Heroe, yang pula berprofesi Pimpinan Setiap hari Gugus Tugas Penindakan Covid- 19 Kota Yogyakarta.

Baca Juga : P40 dan P40 Pro Plus Siap Meluncur ke Indonesia

Pemkot Yogyakarta juga lagi mempersiapkan protokol baru yang hendak lekas dijalankan di seluruh bidang serta lekas diujicobakan.

” Bila Malioboro masih banyak yang tidak mengenakan masker, tidak jaga jarak, serta tidak mencuci tangan, maksudnya jalur mengarah masa transisi new wajar belum dapat diterapkan, serta masih butuh bimbingan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Heroe pula mengimbau supaya para orang dagang yang belum siap melaksanakan protokol Covid- 19 buat tidak membuka usahanya terlebih dulu.

” Kami memohon para orang dagang, tukang becak, kusir andong, serta seluruhnya turut bertanggung jawab terhadap protokol Covid- 19 dapat dijalankan di Malioboro,” imbaunya.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam#SultanMenyapaJilid8, mengantarkan kalau semestinya protokol kesehatan serta ekonomi itu tidak silih berlawanan, melainkan silih memenuhi.

Triknya, dengan menanggulangi pandemi, seraya memulihkan ekonomi. Karena, mengisolasi diri selalu malah hendak berakibat kurang baik untuk ekonomi. Cuma saja, akibat pemberlakuan new wajar tidak dapat lekas dialami.

” Bila kita sukses memberlakukan masa new wajar tanpa merangsang lonjakan gelombang kedua Covid- 19, hingga kita hendak dapat keluar dari ancaman perkembangan ekonomi negatif tahun 2020 ini,” anggapnya.