Imam Nahrowi Divonis 7 Tahun Penjara

Tolakamsiong – Team Penasihat Hukum bekas Menteri Pemuda serta Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Wa Ode Nur Zainab berasa sedih atas vonis tujuh tahun pidana penjara yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, pada Senin 29 Juni 2020 tempo hari. Ia juga dengan maksud tempuh usaha hukum berkaitan keputusan hakim itu.

“Tadi malam sesudah pembacaan keputusan saya meluangkan diri ke KPK ke Gedung C1 dimana ada Pak Imam Nahrawi, beliau disana ikuti persidangan dengan cara online. Pertama beliau, meminta kami penasihat hukum untuk selalu berusaha bersama-sama bagaimana juga, apakah yang didakwakan, dituntut, serta divonis oleh majelis hakim itu tidak sesuai bukti persidangan serta memberi isyarat hukum,” papar Wa Ode dalam penjelasannya, Selasa (30/6/2020).

BACA JUGA : Barcelona Yakin Real Madrid Akan Terpeleset Dalam Perebutan Liga

“Jadi tidak ada bukti hukum di persidangan, cuma ada bukti panduan kata majelis hakim. Bukti panduan itu harusnya didapat dari bukti saksi, bukti surat contohnya. Jika dari alat bukti 184 KUHAP itu namanya bukti panduan itu ada pada level terikuth. Jadi tidak kemungkinan selanjutnya orang di hukum sebab panduan,” jelas ia.

Pada alasan hukum dalam keputusan majelis hakim, sambungnya, seringkali dipastikan oleh Majelis Hakim jika tidak ada bukti yang mengatakan ada pemberian uang ke Imam Nahrawi.

Tetapi demikian, Wa Ode belum dapat memberi kejelasan masalah usaha hukum yang akan dilakukan oleh client-nya. Walau keputusan hakim dinilai cuma berdasar anggapan serta bukan berdasar bukti hukum.

“Tetapi kan ini masih berproses semasa tujuh hari. Tetapi peluang-kemungkinan akan kesana (banding), sebab beliau berikan intinya kita terus berusaha,” Waode menandaskan.

Ketua majelis hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta, mengetuk palu vonis 7 tahun penjarq pada Bekas Menteri Pemuda serta Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Hakim memandang, Imam dapat dibuktikan bersalah lakukan praktik korupsi suap serta grartifikasi.

“Mengatakan terdakwa Imam Nahrawi sudah dapat dibuktikan dengan cara resmi serta memberikan keyakinan bersalah lakukan beberapa tindak pidana korupsi dengan cara bersama,” kata ketua majelis hakim di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Senin (29/6/2020).

“Serta jatuhkan pidana pada terdakwa berbentuk pidana penjara semasa 7 tahun penjara,” tok! bunyi palu hakim.

Kecuali pidana bui, Imam didenda sejumlah Rp 400 juta, subsider 3 bulan kurungan.

Vonis Imam Nahrawi ini diketahui semakin mudah dibanding tuntutan Jaksa KPK, yaitu 10 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Diketahui, bekas Menpora Imam disangka lakukan praktik korupsi dengan terima suap Rp 11,5 M bersama-sama asistennya, Miftahul Ulum. Suap itu disebut untuk percepat proses dana hibah KONI tahun 2018.

Kecuali suap, masih bersama-sama Miftahul Ulum, Imam disangka terima gratifikasi Rp 8,64 M. Uang ini didapatkan mereka dari beberapa sumber. Dalam masalah ini, Ulum diketahui berperanan untuk penghubung di antara Imam dengan pemberi.

Mengakibatkan, Ulum dijearat KPK. Ulum disidangkan terpisah serta sudah dijatuhkan vonis 4 tahun penjara, denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan.