Maria Pauline Lumowa Pembobol BNI

Tolakamsiong – Peruntungan tidak lagi memihak pada Maria Pauline Lumowa. Sesudah 17 tahun dapat mengelak dari kejaran aparat penegak hukum, pelariannya usai di Serbia. Dari negara pecahan sisa Yugoslavia itu, Maria pada akhirnya dipulangkan serta datang di Tanah Air untuk bertanggung jawab tindakannya.

Lalu, apakah yang akan dilaksanakan saat ini? Yang tentu, tentunya bawa Maria ke depan meja hijau, seperti sudah dilaksanakan pada belasan orang dalam masalah yang sama. Dimana, sejumlah besar mereka sekarang ini sudah usai jalani hukuman.

BACA JUGA : Kasus Positif Covid-19 Di DKI Bertambah 344 Orang

“Penting waktu buronan itu diamankan, karena itu ditelaah dahulu, disidik dahulu, siapa yang bertanggungjawab untuk melepas buronan ini di saat ia ke luar negeri. Dengan penangkapan ini dapat dibuka siapa yang terjebak dalam proses pelarian itu,” tutur ia pada Liputan6.com, Kamis (9/7/2020).

Menurutnya, ini penting untuk dilaksanakan untuk peringatan buat aparat penegak hukum yang lain supaya tidak lakukan hal sama. Ditambah lagi sekarang ini banyak beberapa kasus besar sedang disidik kepolisian serta kejaksaan, yang bukan tidak kemungkinan tersangkanya punyai kemauan untuk melarikan diri, tentunya dengan pertolongan orang dalam.

“Jadi pencarian mengenai siapa orang yang loloskan buronan ini penting. Selanjutnya pecat ia dari kedudukannya dalam tempat dimana ia kerja. Mereka tidak dapat dipercayai amankan negara,” tegas Mudzakir.

Mengingat beresiko serta jahatnya sikap aparat yang menolong pelarian beberapa buronan, ia merekomendasikan tidak ada toleransi buat sikap semacam itu di badan aparat negara, terutamanya aparat penegak hukum.

“Jadi saya sangka ini tersistematis serta ada yang bertanggungjawab atas kesuksesan pelarian beberapa buron ini ke luar negeri. Jangan Ada toleransi pada orang yang berkhianat pada negara,” tutur Mudzakir.

Ia menyamai pelarian Maria Lumowa dengan Djoko Tjandra yang dipercaya saling punyai ‘sponsor’ di golongan aparat.

“Kita membuka siapakah pejabatnya, siapa sebagai pelaksana eksekusi tindakan kabur beberapa buronan ini. Sebab jika ini tidak dirombak akan ada buronan besar yang akan lari ke luar lagi,” ia menandaskan.

Disamping itu, Guru Besar Pengetahuan Hukum Pidana Kampus Indonesia Indriyanto Seno Adji, lihat penahanan Maria Lumowa lewat jalan ekstradisi adalah hasil kerjasama hukum serta politik di antara Indonesia serta Serbia yang lumayan baik serta membawa hasil positif buat ke-2 negara.

“Semasa 17 tahun ia melarikan diri serta tinggal di beberapa negara yang tidak mempunyai kesepakatan ekstradisi atau kualitasal legal assistance (MLA) on criminal matters dengan Indonesia, hingga jelas tidak dapat dijangkau dari aparat penegak hukum Indonesia,” tutur Indriyanto pada Liputan6.com, Kamis (9/7/2020)

Karenanya, ia memberikan dukungan dilakukan kenaikan kerja sama bilateral aparat penegak hukum antarnegara. Adanya kerja sama itu, menurutnya pilihan yang dipunyai beberapa buronan untuk kabur ke luar negeri semakin berkurang.

“Seperti lakukan kerja sama kesepakatan ekstradisi atau pengikatan lewat MLA on criminal matters untuk kerja sama yang karakternya resiprokasi. Sebab halIni akan mempersempit ruangan gerak dinamis beberapa buronan,” tutur Indriyanto.